3 PUISI SISWA MADRASAH: ORIGAMI NEGERI GURU

Sabtu, 19 Januari 2019 20:03 WIB

Untuk edisi pertama ini ada 3 karya puisi yang dimuat. Selanjutnya tentu saja karya kamu semua.

3 PUISI SISWA MADRASAH: ORIGAMI NEGERI GURU

Kali ini, sebagai karya pembuka, ada 2 penyair usia madrasah seperti kalian yang dimuat. Dua puisi sederhana yang cukup bagus. Puisi-puisi ini cukup sederhana, jadi kalian juga pasti biasa.

Puisi pertama dari Putri Kamya Syahraz Anees, usia 13 tahun, tentang guru. Puisi ini berisi pujaan kepada guru, fungsi guru dalam kehidupan, pembayangan jika tak ada guru pastilah anak-anak Indonesia tak bisa apa-apa. Ada upaya membuat symbol pada puisi ini. Misalnya jika tak ada apa-apa, maka anak-anak Indonesia akan “seperti batu yang hanya diam/seperti buku yang tak dibaca/seperti piano yang sendirian”. Simbolisme ini kemudian ditutup di akhir dengan bait:

Kita harus saling mencintai.

Kita harus menyayangi guru,

karena mereka telah membantu kita,

tidak seperti buku yang tak dibaca

Kalian juga pasti punya guru yang dikagumi. Tulislah.

Puisi kedua, tentang keindahan alam Indonesia yang semakin lama semakin tidak indah. Sebabnya adalah perusakan alam yang dilakukan oleh tangan manusia. Lalu, penulis puisi ini, menggambarkan diri sebagai alam yang mengeluh:

Semakin hari aku takut

Gelisah, melihat ini semua

 

Gunung gunung yang seperti jerapah berubah

Menjadi seperti semut

Sungai sungai yang bening  menjadi keruh

Tentu situasi ini menyedihkan. Lalu alam yang sedang bicara pada kita, melalui puisi ini, menyeru pada kita:

Ayolah bantu aku

Kau juga kekayaanku!

            Nah, puisi ketiga juga sangat sederhana. Ini menceritakan permainan origami. Kamu pasti tahu origami? Itu lho permainan melipat kertas menjadi bentuk-bentuk tertentu: ada yang berbentuk burung, perahu, kupu-kupu dan sebagainya. Puisi ini menceritakan peristiwa sehari-hari itu dengan cukup indah. Keasyikan membuat origami tergambar pada puisi ini. Lalu di akhir puisi ada kejutan, kertas dihidupkan seperti manusia. Personafikasi namanya:

Di tengah jari jemari, kertas itu jengah dan merasa tak dilibatkan.

Kertas itu  pun akhirnya pergi ke sebuah buku yang nyaman

indah dan tentram.

Nah, pada minggu depan giliran puisimu ya. Ditunggu kirimannya. Jangan lupa, berkaryalah karena kalian anak madrasah.

 

 

 

Putri Kamya Syahraz Anees

GURU

 

 

Guru mengajarkan semua hal kepadaku.

Membaca, dan menuliskan ilmu,

Berteman dengan siapapun

Berolahraga hingga sehatlah tubuh

 

Tanpa guru aku tidak bisa apa-apa.

Seperti batu yang hanya diam

Seperti buku yang tidak dibaca

Seperti piano yang sendirian

 

Di saat aku kesusahan

guru pasti akan membantu

dengan kasih sayang.

 

Di saat aku terjatuh,

guru pasti akan mengobati.

Dengan doa

 

Saat di sekolah

guru adalah orang tua.

Yang menjaga dan menyayangi

 

Kita harus saling mencintai.

Kita harus menyayangi guru,

karena mereka telah membantu kita,

tidak seperti buku yang tak dibaca

 

Ratu Alivya Syahrazard Anees

“ Keindahan Alam  “

 

Aku adalah Negara yang indah 

Keindahan

Kekayaan alam

Menyelimutiku: orkestra

 

Semuanya berjajar dari sabang hingga merauke

Mereka berlomba lomba

Untuk menampilkan keindahan alam

Nada-nada yang terbaik

Hanya untukku sendiri

 

Sungai sungai yang jernih

Laut nan elok

Gunung yang tinggi seperti menggapai langit 

Air terjun yang indah menelusup bumi

 

Itu hanya salah sebagian dari kekayaan ku

Namun, kali ini aku sedih

Mengapa orang selau merampas,

Mengambil kekayaanku?

 

Semakin hari aku takut

Gelisah, melihat ini semua

 

Gunung gunung yang seperti jerapah berubah

Menjadi seperti semut

Sungai sungai yang bening  menjadi keruh

 

Ayolah bantu aku

Kau juga kekayaanku!

 

 

Ratu Alivya Syahrazard Anees

ORIGAMI

Sebuah kertas tergeletak di dalam kamar.

Perempuan  itu menyusun kertasnya sehingga nampak jelas 

 Ia pun membuat kembali.

            “ Hei, itu ada kupu kupu “ katanya.

            “Hore, sekarang ada kuda “

Semuanya, bergerak gerak. Kesana kemari

“ wah,  ternyata ada burung, ikan, belalang”

Semuanya tampak indah, ada yang meloncat loncat

Berlari lari, terbang.

            Di tengah jari jemari, kertas itu jengah dan merasa tak dilibatkan.

Kertas itu  pun akhirnya pergi ke sebuah buku yang nyaman

indah dan tentram.

 

 

KATA KUNCI
BAGIKAN
BERI KOMENTAR


Ruang Pamer LAINNYA