ADA APA DENGAN SEKOLAH ISLAM TERPADU?

Sabtu, 19 Januari 2019 20:25 WIB

Sekolah Islam Terpadu mengajarkan materu Islam dengan kurikulum dibuat sendiri. Kenapa tidak ada kontrol? Ada masalah apa?

ADA APA DENGAN SEKOLAH ISLAM TERPADU?

Sekolah Islam Terpadu  berawal dari keberadaan lima sekolah dasar yang berdiri pada tahun 1993 di wilayah Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Kelima sekolah itu adalah SDIT Nurul Fikri Depok, SDIT al-Hikmah Jakarta Selatan, SDIT Iqro Bekasi, SDIT Ummul Quro Bogor, dan SDIT al-Khayrot Jakarta Timur. 

“Secara kebetulan, konsep “Sekolah Islam Terpadu” itu untuk pertama dijalankan oleh para aktivis gerakan tarbiyyah. Dan tentu saja, ada motif-motif selain pendidikan dari penerapan konsep “Sekolah Islam Terpadu” tersebut. [https://islami.co/memahami-akar-masalah-sekolah-islam-terpadu/]

Para penggagas konsep “Sekolah Islam Terpadu”, menganggap bahwa sistem pendidikan nasional yang dikandung di dalam UU No.2 Tahun 1989, tidak memberi pondasi yang kuat bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, di dalam menyongsong era kompetisi pada abad ke-21. Konsep “Sekolah Islam Terpadu” menyiratkan adanya kekecewaan terhadap kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh Pemerintah (Depdikbud dan Depag).

Mereka memandang bahwa kebijakan pendidikan yang diterapkan pemerintah tidak mampu bersikap adaptif terhadap tantangan perkembangan zaman tapi juga mengandung banyak persoalan serius.

Sejak tahun 1993 ini sekolah Islam terpadu terus bermunculan dan berkembang pesat di seluruh Indonesia.  Pada 31 Juli 2003, Dr Fahmy Alaydroes (yang ketika itu menjabat ketua Yayasan Pendidikan Nurul Fikri)  merintis pendirian JSIT. Tujuan dari pembentukan organisasi itu sendiri adalah sebagai wadah berhimpunnya sekolah-sekolah Islam yang memiliki filosofi, konsepsi, dan aplikasi yang sama dalam penyelenggaraan pendidikan.Pada awal pendiriannya, sejumlah 426 unit sekolah yang bergabung dalam JSIT Indonesia.

Setelah hampir 14 tahun berlalu, jumlah sekolah yang terdaftar sebagai anggota organisasi itu mencapai 2.418 unit sekolah. Adapun jumlah tenaga pengajar SIT yang tercatat di JSIT saat ini hampir mendekati angka 80 ribu orang tenaga pengajar.  Sementara itu jumlah siswa SIT yang terdaftar dalam database kami sekarang berkisar satu juta orang.

Bagaimana kurikulum agamanya?

Kurikulum SIT dikembangkan sendiri oleh masing-masing sekolah. Sebagai sekolah umum (SD, SMP, SMA) SIT menggunakan standar yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),. Di luar itu ada juga standar pendidikan agama Islam (PAI), standar kerjasama, dan standar pembinaan kesiswaan. Lebih dari itu, ada satu kurikulum yang disebut SIT sebagai Kurikulum global di sini mencakup materi tambahan seperti pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Arab yang diberikan kepada setiap siswa sejak dini.

Kesemua kurikulum ini dikontrol dan dibawah pengawasan JSIT. Kemena peran pemerintah? Bagaimana kalau islam yang diajarkan tidak sesuai dengan paham resmi? Bagaimana kalau bukan ajaran Islam yang diajarkan? Siapa yang memberi wewenang JSIT menjadi pengontrol kurikulum keislaman di SIT?

SIT berada di bawah Kementrian Pendidikan Nasional. Kewenangan pengontrolan, pengawasan, dan pembinaan SIT berada di bawah Kemendiknas. Sayangnya kemendiknas  tidak memiliki regulasi dan SDM untuk mengawasi pendidikan agama. Sebenarnya yang memiliki wewenang mengawasi pengajaran agama adalah Kementrian Agama. Tapi regulasinya belum dibuat. Kemenag tak bisa semena-mena mengurusi sekolah-sekolah di bawah Kemendiknas. Karena itu Kemenag baru mengeluarkan aturan akan melakukan pendataan sekolah-sekolah. Ini terlihat pada surat dari Dirjen Pendidikan Islam Nomor: DT.I.II/2/HM.01/222/2016 tanggal 09 Februari tahun 2016 tentang Pendataan Sekolah Islam Terpadu (SDIT, SMPIT, SMAIT dan SMKIT.

Lebih dari pendataan, Kemenag harus melakukan kerjasama dan membuat Surat Keputusan Bersama dengan Kemendiknas.

KATA KUNCI
BAGIKAN
BERI KOMENTAR


Madrasah Hebat LAINNYA