BELAJAR ISLAM? KE MADRASAH SAJA

Sabtu, 19 Januari 2019 20:21 WIB

Setiap tahun ajaran baru banyak orang tua yang ingin anak-anaknya tidak hanya belajar ilmu umum, tapi juga belajar ilmu agama. Harus kemana?

BELAJAR ISLAM? KE MADRASAH SAJA

Setiap tahun ajaran baru banyak orang tua yang ingin anak-anaknya tidak hanya belajar ilmu umum, mereka ingin anak-anaknya belajar juga ilmu agama. Harus kemana ya?

Trend terakhir menunjukkan kecenderungan orang tua mendaftarkan anaknya ke Sekolah Islam Terpadu. Alasannya sebenarnya tidak mendasar,  “Di Sekolah Islam Terpadu mereka belajar ilmu umum sama dengan Sekolah umum, sekaligus belajar ilmu agama: mengaji dan menghafal al-Quran serta pembiasaan ibadah…”, begitu kira-kira alasan mereka. Maka, didaftarkanlah anak-anak mereka ke Sekolah Islam Terpadu. Walaupun harganya mahal, ada banyak orang tua yang memilih Sekolah Islam Terpadu.

Di samping itu sebenarnya ada satu hal yang belum diketahui oleh khalayak mengenai  materi agama yang diajarkan di Sekolah Islam Terpadu. Ya, walaupun benar mereka mengajarkan materi keislaman, namun siapakah yang mengontrol materi keislamannya? Sekolah Islam Terpadu secara administrative berada di bawah Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).  Sementara itu kemendiknas tidak punya wewenang dan aparat  yang dapat mengontrol penyelenggaraan pendidikan agama.

Kalau begitu materi  atau kurikulum agama Islamnya bisa asal-asalan dong?

Bisa saja begitu. Bisa juga materi agamanya disusupi oleh paham keagamaan yang berbeda, tidak lazim, atau bisa jadi cenderung jadi anti Negara. Bahkan diduga “Beberapa sekolah ternyata mengajarkan paham keagamaan yang ekslusif dan puritan. Tidak hanya itu, fanatisme terhadap kelompok tertentu juga diajarkan”, seperti ditulis qureta (https://www.qureta.com/post/dilema-sekolah-islam-terpadu).

Kenapa demikian? Karena diduga sebagian besar penggagas ide dan penyandang dana sekolah IT adalah dari kalangan elit partai politik Islam tertentu yang didanai dari negara di Timur Tengah yang berideologi puritan.

Ideologi puritan biasanya mengajarkan pandangan keagamaan yang eksklusif (tertutup): menganggap diri benar dengan menyalahkan yang lain.  Bayangkan, jika generasi Islam sejak usia dini sudah diajarkan cara berpikir benar-salah dengan cara menyalahkan di masa depan akan terjadi bom waktu. Pada masa depan akan muncul WNI dengan pemahaman eksklusif/tertutup, kemudian tak menutup kemungkinan  mengkristal dan meledak dalam bentuk radikalisme dan ekstrimisme atas nama agama.

Kalau begitu harus kemana anak-anak kita sekolah yang bisa menguasai pelajaran umum dengan baik sekaligus belajar agama yang ramah?

Sekolahkan saja ke Madrasah.

Madrasah kan hanya mengajarkan agama Islam. Siswa-siswa madrasah biasanya hanya hebat dalam bidang agama, itu pun dengan cara-cara tradisional yang tidak siap bersaing di zaman globalisasi. Madrasah identik dengan Islam “kampungan”.

Sebenarnya tak begitu. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) 1989 menegaskan bahwa madrasah “sekolah umum dengan ciri khas Islam”. Jadi, madrasah itu sama saja dengan SD, SMP, dan SMA. Ada pelajaran umumnya yang diawasi dengan standard yang sama dengan sekolah umum. Bedanya, dan inilah letak keunggulannya, madrasah memiliki “ciri khas islam”. Ciri khas ini tak dimiliki oleh sekolah umum, bahkan oleh Sekolah Islam Terpadu.

Kok bisa madrasah lebih unggul daripada Sekolah Islam Terpadu?

Walaupun Sekolah Islam Terpadu sama-sama mengajarkan materi keislaman, kurikulum pendidikan agama Islam di madrasah  lebih dalam dan luas. Madrasah memiliki mata pelajaran khusus mengenai Al-Quran, Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqh, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Masing-masing satu mata pelajaran pada setiap semesternya.

Sementara di Sekolah Islam Terpadu, mata pelajaran seperti tidak ada. Kalaupun ada tidak menjadi satu mata pelajaran tersendiri. Kalaupun ada beberapa sekolah Islam Terpadu yang menyajikan dalam satu mata pelajaran tersendiri, kurikulum dan materinya tanpa pengontrolan dan pembimbingan  yang jelas.

So, kalau mau belajar agama: ke madrash saja.

Apakah siswa Madrasah dapat bersaing dalam bidang ilmu umum?

Baca saja Koran, lihat bagaimana hebatnya madrasah. Di antaranya ada berita di Republika [https://republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/07/08/pbk0ie366-madrasah-mampu-bersaing-dengan-sekolah-umum]. Pada berita itu disebutkan: 

Pada OSN 2018 siswa-siswi madrasah meraih banyak penghargaan. Para peraih medali emas tersebut, yaitu Muhammad Raihan Agis Pradana bidang kimia (best theory, absolute winner) dari MAN 2 Kota Malang, Luthfiyah Yasmin bidang Kimia dari MAN 2 Kota Malang dan Habib Luthfi Ash Shiddiqie juga dari MAN 2 Kota Malang. Kemudian, tiga emas lainnya diraih Shania Rahmi bidang ekonomi dari MAN 2 Model Pekanbaru, Hudzaifah Afif Alfatih Nasution bidang fisika dari MAN Insan Cendekia Gorontalo dan Hilmi Nuruzzaman bidang astronomi (Best Practice) dari MAN Insan Cendekia Serpong. Selain emas, siswa-siswa madrasah juga memperoleh 15 perak dan 15 perunggu.

Mau apa lagi?

Di samping Madrasah mengajarkan Islam yang ramah dan murah, Madrasah juga melahirkan juara OSN.

Madrasah Hebat Bermartabat

KATA KUNCI
BAGIKAN
BERI KOMENTAR


Madrasah Hebat LAINNYA