Cerita pendek ; KEJUJURAN YANG (TAK) TERLAMBAT

Sabtu, 19 Januari 2019 20:07 WIB

"Karen, belajar dulu sana 2 minggu lagi kan ada ulangan ” ujar mamanya.

Cerita pendek ; KEJUJURAN YANG (TAK) TERLAMBAT

"Nanti aja mah, kan masih 2 minggu lagi ulangannya. Lagi pula Karen kan mau BBMan sama temen temen Karen “ katanya sambil memegang handphone Blackberry. “Aneh deh, orang ulangannya masih lama malah disuruh-suruh belajar,” mulut Karen ternyata masih terus menggerutu, “Kan Karen harus update dulu status terus ngemention duluu“. 

           Jangan heran dengan Karen, memang anaknya yang sangat pemalas: terutama jika terkait dengan belajar. Dia hanya mau belajar bila besoknya ada ulangan. Bila tidak ada ulangan, dia bukannya belajar malah asyik main twitter. Bayangkan saja  seharian dia bisa memainkan handphone, dari pagi hingga malam. Dari bangun tidur sampai mau tidur, hebat bukan?. Kalau disuruh berhenti main handpone-nya, Karen pasti menjawab  “Kan aku harus eksis, gak boleh ketinggalan informasi dan gak boleh sampai kurang update. Nanti muka Karen mau ditaruh dimana kalau Karen kurang uptade“.

           Selain itu, Karen anak yang sangat manja. Bila Karen mau sesuatu, kedua orang tuanya harus mengikuti kehendaknya. Kalau tidak diikuti dia akan marah dan tidak mau melakukan apa apa. Saking manjanya sampai sampai Karen memiliki tiga buah handphone .  Selain itu jika ada teman yang memiliki accecoris baru, Karen harus punya. Kalau tidak dia akan melakukan aksi diam diri di dalam  kamar, sampai orang tuanya membelikan.

           Manja bukan ?.

           Dia juga, memanfaatkan jabatan kedua orangtuanya sebagai pemilik perusahaan emas dan perusahaan minyak bumi untuk sombong kepada teman-teman di kelas. Selain itu Karen juga suka mengejek teman-teman di sekolahan yang kurang mampu. Misalnya Rayna, dia anak yang pintar, baik hati dan sopan namun hidupnya tidak seberuntung Karen karena sekarang usaha ayahnya sedang bangkrut. Mengetahui aib itu, bukannya ikut prihatin atau membantu, Karen malah mengejeknya. “Eh kasihan banget ada yang usahanya bangkrut. Makanya lain kali bantuin dong ayah kamu biar usahanya gak bangkrut. Hidup kamu jadi susahkan Reyna? “ ejeknya. Sakit hati sih pasti sakit hati diejek seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Untungnya teman-teman Karen tidak pernah mempedulikan ejekan Karen.              

           Oh ya, Karen juga anaknya gampang sekali mengadu. Kalau sedikit dikasih tahu temannya  dia langsung lapor ke guru, atau orangtuanya. Misalnya seperti gini “Karen  kamu bisa sopan gak? Kan ini meja guru, masa kamu duduk di situ !“ tegur Budi suatu ketika.

           “Kenapa Bud, sadar kamu the? Kan di sini aku bisa melakukan apa pun sesuka aku. Jadi terserah aku mau gimana aja, kamu lupa yah  kan aku anaknya ….“ ucap Karen dengan nada menantang.

           “ Oh, gitu ya? Kamu di rumah pernah diajarin sopan santun gak “ potong  anak anak lain.

           “Oh, kalian udah berani beraninya ngelawan aku yaa… oke deh habis ini aku akan laporkan ke pak Nino dan orangtua aku. Lihat aja nanti“, tantangnya dengan memasang muka masam. Memang betul, sehabis dari kelas dia langsung melaporkan kejadian itu ke orangtua dan pak Nino. Mau tak mau, kita sekelas kena marah dari ibunya Karen. Sungguh, hari yang menyebalkan.

           Selain manja, sombong, aduan, suka ngejek orang. Dia itu pelit ilmu dan suka nyontek. Jadi, setiap ada orang yang nanya soal yang gak ngerti dia gak mau ngasih  tau. Tapi, kalau misalnya dia bertanya sesuatu,  semua orang harus langsung memeberi dia jawaban. Padahal  menurut guru mengaji, ‘kalau kita punya ilmu, seharusnya dibagikan ke orang lain, agar ilmu kita bertambah dan menjadi barokah’.

           Terus dia itu hampir setiap ulangan selalu nyontek. Sebenernya, awal mulanya itu karena dia itu ingin meraih rangking 1 tapi gak bisa-bisa. Berbagai cara telah dia lakukan tetapi selalu gagal dan gagal. Akhirnya, dia mengeluarkan cara terakhir, yaitu mencontek saat Ujian Kenaikan Kelas agar dia mendapatkan nilai yang bagus.  Namun saat itu dia kalah, maksudnya tidak bisa mendapatkan rangking 1. Karena, pasti  (kejujuran pasti menang lawan yang gak jujur). Dari situ dia down karena dia tidak bisa dapat rangking 1. Dan yang mendapatkan rangking 1 tetap Cut Melati.

           Setelah kejadian itu bukannya rajin belajar malahan terus mencontek. Jadi dia seperti sudah terbiasa mencontek, padahal sudah sering kali diperingaati oleh guru, juga oleh teman-teman agar tidak mencontek. Tetapi tetap saja kebiasaan buruknya tidak pernah sembuh-sembuh. Ngeselin gak sih? Karena itu banyak yang tidak suka dengan sikap Karen.

*

           Akhirnya waktu yang ditunggu tunggu telah tiba. Hari ini adalah hari pertama Karen bersama teman-temannya mengerjakan soal UN. Rasa deg-degan, khawatir dan takut masih ada di benak teman-teman sekelasnya. Maklum saja ini hari pertama ujian dan ini pengalaman pertama bagi mereka. Tapi, entah kenapa hari ini Karen begitu tenang dan santai, tidak seperti ujian-ujian sebelumnya. “Biasanya jika ada ujian dia tegang, tapi sekarang tidak” Rey mengkomentarai sikap Karen,  sambil membaca buku yang berisi rangkuman Bahasa Indonesia. -“Ya Rey, bener banget, mungkin karena dia sudah belajar dari jauh0jauh hari kali,” balas Zelsa.

           Bel pun berbunyi 3 kali, itu menandakan semua peserta ujian harus masuk kelas  untuk melaksanakan ujian. Semua anak anak berbaris di depan kelas, lalu masuk ke kelas untuk duduk di bangku masing-masing. Di situ sudah ada 2 orang pengawas un yang akan mengawasi kegiatan un. Tak lupa mereka semua berdoa terlebih dahulu kepada Tuhan masing masing agar dimudahkan dalam pengerjaan soal. Setelah itu, pengawas memberikan LJK (Lembar Jawaban Komputer) untuk diisi.

           10 menit berlalu…. 

           Tibalah akhirnya, pengawas memberikan soal Ujian Nasioanal. Semua anak-anak peserta ujian telah siap untuk mengerjakan soal un, begitu pula dengan Karen. Semua anak tampak mulai mengerjakan soal dengan teliti dan (bener bener dicermati).  Tetapi berbeda dengan Karen, hari itu Karen benar-benar gelisah, dia seperti tidak tahu jawabannya apa. Seringkali dia membuka tempat pensilnya atau membuka dan memasang lagi jam tangannya.

           Aneh, hari itu benar benar aneh. Karen juga jadi “keseringan” ke wc, padahal biasanya  pada KBM biasa, jarang sekali ia pergi ke WC. Luis, teman sekelas Karen,  seperti menemukan kejanggalan melihat pola tingkah Karen. Yang lebih anehnya, pengawas un-nya malah ngebolehin Karen bolak-balik ke wc. “Wah ada yang gak beres nih,“ tukas Luis dalam hati. Seharusnya kan ditegur atau dilarang ke wc,  ini  malah dibolehin. 

           Waktu terus berjalan, waktu tinggal 30 menit lagi. “Anak-anak sekarang waktunya untuk diperiksa. Karena sebentar lagi ljk dan soal ujiannya akan dikumpulkan “ ujar pengawas yang bernama ibu Mimi. “Jangan lupa anak-anak periksa biodata di ljk. Nama, nomor peserta, tanggal lahir, tanda tangan, dan tanggal ujian harus diisi. Yang tak kalah penting, periksa jawaban kalian, jangan sampai kalian menyesal. Gunakan waktu seeefektif mungkin “ kata pengawas laki-laki yan berbadan gendut, berkumis dan berkacamata.

           “Haduh 1 soal lagi nih. Gimana ya caranya?” keluh Miftah sambil memegang rambutnya yang tajam seperti bulu landak. “Masak gitu aja gak tau, makanya belajar dong “ kata Karen dengan ketus yang duduk tepat di bangku depan Miftah. Kesel sih Miftah, tapi mau gimana lagi orang sekarang lagi ujian, jadi ya harus ikhlas.

           Semua peserta sibuk kini tampak sibuk menyelesaikan nomor-nomor akhir ujian nasionbal hari itu. Karen  tampak sibuk membuka-buka tempat pensil atau mengambil tissue, kadang-kadang juga membolak-balikkan papan dada. Banyak banget tingkah yang dia lakukan. Ada-ada saja, bisik Luis yang melihat tingkah temannya dari samping.

           “5 menit lagi kertas ujian akan dikumpulkan….jadi periksa dan jangan sampai kalian menyesal. Mengerti ?“ ucap bu Mimi dengan tegas.

           “Siap ibuu “ jawab anak anak yang berada di ruang kelas 2 Dewi Sartika.

           “Haduh, sebentar lagi niih ujiannya mau beres”.

           Akhirnya bel berbunyi itu tandanya ujian telah selesai. Semua anak berhamburan keluar kelas. Mereka semua masih tidak percaya kalau tadi mereka mengerjakan soal ujian. “Hiih gila, soalnya mantap“, teriak seorang anak yang ada di belakang pintu.

           “Eh kata kamu nomor yang susah yang mana? Kalau aku mah no 2,  9 sama 15. Kalau kamu“

           “Aku mah no 7,9 sama 20. Kata aku sih no 9 agak susah. Bener gak sih?”

           “Ya, bener tau“.

Percakapan seperti itu jadi “sering” terdengar setelah selesai ujian nasional. Mereka juga mengingat-ingat jawaban apa yang mereka jawab di LJK.

           “Kamu inget gak jawaban nomor 5 ?“ Tanya Aura

           ”Yang mana Ra ? yang tentang vitamin C bukan?“  jawab temannya, Riris.

           “ Iya yang itu, kalau aku mah jawabannya D, kamu ?” 

           “Kalau tidak salah sih jawaban aku C “.

Ngomong-ngomong Karen bisa gak ya ngerjain soal UN-nya? Kan biasanya Karen jarang dan malas belajar, apakah sekarang Karen bisa mengerjakan soalnya?.

           “Eh, Ren kamu tadi bisa mengerjakan soalnya gak, soalnya dari tadi aku lihat kamu kayak tegang, dan takut” Tanya Miftah sambil memegang tas gendongnya.

           “Jelas bisa dong. Nggak kok, nggak .. kamu aja yang aneh. Emang nya aku kayak kamu gak bisa bisa ngerjain soalnya. Hahahaha“,  jawabnya dengan sinis.

           Tiba tiba saja ada pengumuman ini “ KEPADA SELURUH SISWA SISWI MI AL-BAROKAH DIHARAPKAN UNTUK BERKMPUL DI LAPANGAN UPACARA “ ujar salah seorang guru. Murid murid kelas 6 MI AL-BAROKAH pun dengan tangkap langsung berbaris. Di situ semuanya diberikan motivasi dan semangat oleh para guru. Tak terasa, waktu telah menunjukan pukul 10 yang menandakan seluruh siswa-siswi pulang.

           Kali ini Karen dijemput  dengan mobil Alpard-nya. Setelah Karen melihat plat nomornya, Karen pun langsung masuk ke dalam mobil. Ternyata di situ ada mamanya yang menjemput.

           “ Hai Karen. Gimana tadi mengerjakan soalnya, bisa atau nggak “ Tanya mamanya.

           “Ya gitu deh mah, gampanglah…. masa soal segampang itu Karen gak bisa jawab” jawabnya.

           “Mah, mana i-phone Karen yang warna putih ” pinta Karen sambil menaruh tas kuning-cokelat kesayangannya.

           “Ada di rumah, tapi sekarang selama 3 hari ke depan Karen nggak dulu boleh pake i-phone sama handphone-ya, kan biar bagus hasil UN-nya. Oke ?” ujar  mamanya yang sedang menyetir.

           “Ahh.. mamah gak seru. Kan Karen juga bisa kok jawab soalnya gak kesusahan ngerjainnya. Ya udah Karen  gak bakal belajar “ katanya sambil marah.

           “Ya sudah tidak apa apa yang rugi juga kamu. Nanti boleh kalau kamu sudah beres UN. “ sahut mamahnya.

           Sepulang dari rumah Karen langsung ke kamarnya. Sebetulnya Karen kesal dengan mamanya yang tidak membolehkan dia memainkan i-phone. “Dari pada diem terus, mendingan sekarang aku buat dulu ‘ tulisan’ buat besok ah!”, gumam Karen. Ia tampak sibuk mengerjakan sesuatu di kamarnya. Tak ada yang tahu, juga kedua orang tuanya.

            Keesokan harinya, ia meminta supir pribadinya, Pak Endo untuk mengantar berangkat sekolah lebih awal. Setengah jam lebih pagi dari biasanya. Melihat hal itu, mamahnya heran: kok anaknya tumben-tumbennya berangkat sekolah sepagi itu. Biasanya anaknya, Karen untuk bangun pagi saja sangat susah. “Kaka Karen, tumben berangkat sekolahnya pagi-pagi sekali. Memangnya ada apa Ka? “ Tanya mamanya yang masih binggung dengan sikap anaknya.

           “E.. e.. maau emm.. mau… ” jawabnya terbata-bata, “Mau ngobrol sama teman-teman mah, kan sebentar lagi mau pisah mah”

           “Oh gitu, bener nih? Sekarang mama yang antar Kaka Karen ya” tawar Mamahnya.

           Karen tampak bingung, ia seperti menyembunyikan sesuatu dari mamahnya, “Gak usah deh mah, biar diantar Pak Endo aja. Lagian mamah belum siap-siap… hehee..daah maah!”. Karen berangkat lebih pagi dari biasanya. Begitu sampai ke sekolah, Karen langsung lari menuju WC.  Entah apa yang dilakukan, mungkin saja ia tak sempat buang air kecil di rumahnya.

            “Eh.. ada Karen, tumben Kar datang ke sekolah pagi banget?“ tanya Tiur yang rumahnya dekat dengan sekolah, ia terheran-heran menemukan Karen sepagi itu sudah ada di WC sekolah.

            “ Emangnya gak boleh ya datang pagi-pagi? “ jawab Karen sambil bertanya

            “ Boleh-boleh saja siih”,  jawab Tiur sambil lalu.

Anak-anak yang lain berdatangan. Tak berapa lama kemudian, bel pun berbunyi.  Ini saatnya untuk berjuang, mengerjakan soal UN. Hari itu UN selesai dengan cara yang menegangkan. Wajah peserta ujian memerah, seperti habis dijemur di bawah matahari siang. Tapi dua hari telah berlalu, ada rasa lega yang terlihat pada mata mereka.

            Keesokan harinya. Karen mengulangi hal yang sama. Datang sangat pagi-pagi, hobbynya ke wc, suka bongkar pasang jam, terus buka-buka laci pula. Beberapa siswa lain ada yang mulai curiga, namun ketegangan mengurusi soal-soal UN membuat siswa-siswa melupakan keganjilan Karen. Soal UN yang sangat menegangkan membuat semua siswa merasa lebih memikirkan nasibnya sendiri daripada orang lain.

            Akhirnya, UN pun telah selesai. Semua siswa kembali beraktivitas seperti biasa. Mereka pulang ke rumahnya dengan penuh suka-cita karena telah menyelesaikan suatu rintangan yang cukup hebat. Namun, ada satu hal yang membuat mereka tunggu, yaitu pengumuman kelulusan. Dari situ, mereka semua harus sering berdoa agar mereka lulus.

            Tak terasa waktu begitu cepat, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan untuk siswa SD.

            “Huuh.. aku jadi deg-degan. Siapa yaaa… yang dapet NEM tertinggi ?” Tanya Aurelia .

            “Iya bener banget, semoga saja aku yang dapet NEM tertinggi, hehehehehe “ jawab Nela dengan senang.

            Ada banyak celoteh lain yang terus terdengar di sepanjang koridor sekolah. Celotehan itu terhenti ketika ibu bapak guru sudah mulai masuk ke dalam ruangan aula. Suara-suara yang ramai itu mendadak terhenti. Sunyi, Senyap. Semua orang rupanya merasa khawatir jika dirinya tidak lulus.

            “Assalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan bagi anak anak sekalian. Bagaimana perasaaan kalian, anak-anak? “ Tanya bu Yunda dengan penuh semangat.

            “Waalaikum salam bu Yundaaaa“ 

            “ Deg-degan bu “

            “ Tegang “

            “Takut “ ,

Itu jawaban yang terdengar. Semuanya memang tegang bahkan orangtuanya pun cemas dan khawatir. Setelah sambutan dan berbagai macam acara tiba akhirnya pengumuman kelulusan.

            “Anak anak sekarang bapak dan ibu umumkan siswa dengan peraih NEM tertinggi,” Bapak kepala Sekolah memulai membacakan pengumuman yang sangat menegangkan ini. “Di urutan ketiga jatuh pada….” Ia berhenti sebentar, sambil memandang pada seluruh siswa, “Sis….wa laki laki dari kelas 6A. Siapa yaa….? “

            “ Miftah “, bisik-bisik mulai terdengar dari sudut-sudut kelas. Ada juga yang bilang, “ Ciko “,  atau ada bisikan lain, “mungkin Lius!”. Semuanya terhenti ketika kepala sekolah mengangkat tangannya, “ T-i-t-o!  Yaa… dia adalah Tito dengan jumlah nem 27, 90!”, seru kepala sekolah. Siswa di ruangan itu tampak gaduh sebentar, ada beberapa yang menerima ada juga terdengar nada protes. 

            “Dan….. yang kedua,” suara kepala sekolah memecah kegaduhan,  “adalah…. Melati dengan jumlah nem 27,95!” Siswa kembali ribut, komentar terdengar di mana-mana.

            “Anak-anak,” suara kepala sekolah terdengar meninggi, “kalian harus tenang, saatnya kita dengarkan siapakah peraih dengan jumlah NEM tertinggi  di sekolah ini. Peraih NEM tertinggi di sekolah ini adalah…” Semua anak dan orangtua khawatir,dan mereka berharap bahwa mereka yang akan meraih NEM tertinggi.

            “KAAAA…..  REEENNNN“.

             Mendengar itu, hampir seluruh murid kaget dan heran. Karen tampak tersenyum di sudut ruangan. Semua teman-temannya mulai rebut seperti lebah yang sedang terbang, ada saja komentar yang diajukannya. “Kok, bisa orang yang malas belajar, pelit ilmu, suka mengejek orang bisa mendapatkan NEM tertinggi. ?”Semuanya masih keheranan dan tidak percaya dengan hal itu. Disisi lain Karen senang dan tiba tiba saja dia langsung berdiri. “ Kalian, masih tidak percaya aku yang mendapatkan NEM tertinggi. Makanya jangan pernah meremehkan aku “  ucapnya sinis.

            Di situ, orangtuanya sangat malu melihat sikap anaknya. Semuanya juga pada kesal dengan sikap nya. Bahkan banyak sekali yang menyorakinya.

            “Kok bukan kamu sih  Cut yang dapet NEM tertinggi malahan dia. Padahal lebih cocok kamu tahu” kata Ayu.

            “Udah nggak apa-apa, mungkin belum rezekinya aku ” jawabku lemas.

            Sebetulnya aku sangat megharapkan untuk meraih NEM tertinggi. Apalagi selama ini dia terus-menerus mendapatkan rangking 1 dari kelas 1 sampai kelas 6, jadi saat mendengar pengumuman tadi dia pun tidak percaya. Hal serupa juga dialami Aurelia, dia juga selalu mendapatkan rangking 1. Jadi pantas saja jika banyak orang yang heran. Tapi begitulah kejadiannya.

 

**

           Satu tahun kemudian, sekolah itu mengadakan reuni.

           Saat itu, semua siswa menceritakan pengalamannya di SMP masing masing. Mereka merasa bangga mendengar ada beberapa teman yang menjuarai berbagai macam perlombaan tingkat nasional bahkan internasional. Ada siswa yang tadinya pemalas, setelah di SMP menjadi sangat rajin. Ada siswa yang tadinya kurus, sekarang tampil lebih gendut dar biasanya. Semua siswa berkumpul, berbagi suka-duka  setelah setahun terpisah di  SMP masing-masing.

           Karen. Ya di mana peraih NEM tertinggi MI kami itu?

           Ia datang terlambat, itupun dengan wajah yang tak seperti biasanya. Ia tampak murung.

           Setelah lulus dengan NEM tertinggi, ia diterima di Madrasah Tsanawiyah pavorit. Semua siswa pintar di kota Bandung masuk di sekolah itu. Pastilah seru belajar bersama dengan orang-orang yang semuanya memiliki spirit maju. Tapi ia tampak murung, datang tanpa semangat.

           Karen berjalan perlahan. Teman-teman mulai berbisik-bisik, saling mengupdate gossip terbaru mereka. Semua mata menatap Karen. Ia terus berjalan menghampiriku, ia memelukku, sambil menangis, “Maafkan aku ya Cut!”, ujarnya di tengah isakan tangis yang semakin lama semakin terdengar pilu. Saya mengusap rambutnya, mencoba menenangkan dukanya yang terasa sangat dalam. “Ada apa… Ada apa Karen?” bisikku,  “Kau bisa ceritakan padaku, saya janji tak akan cerita pada siapapun!”, bisikku perlahan-lahan.

           Karen menggamitku ke pojok ruangan. Teman-teman kecewa karena semuanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun saya ingin semuanya menghargai keputusan Karen untuk memilih siapa yang berhak mendengar ceritanya. Kami berdua menuju sudut ruangan, Karen masih tampak murung, ia berjalan seperti tak menapak.

           “Cut….Aku gagal di MTs”, Karen memulai pengakuannya.

           “Oohhh…karena masalah itu,”jawabku, “Itu sih biasa… semua hal butuh penyesuaian. Lama-kelamaan juga kamu pasti bisa menyusul mereka, seperti dulu waktu di MI… Kamu kan juga bisa memberi kejutan pada akhir masa sekolah!”

            “Justru itu…Cut…”, jawab Karen dengan tangis yang meledak, “Sebelumnya saya minta maaf, Karena pada saat UN itu, saya….” Karen terdiam sejenak, “Sayaa…. sebenarnya  mencontek!”

           ” Iya Cut aku benar benar menyesal telah mencontek.  “ ucap Karen sambil mengusap air matanya. “Gara-gara NEMku tertinggi, aku masuk ke MTs anak-anak pintar. Saya tak bisa mengikuti kepintaran mereka. Setiap hari saya berusaha keras, namun tetap saja gagal. Seharusnya saya masuk MTs biasa-biasa saja, dan kamulah yang masuk MTs itu. Semula saya pikir enak juga bisa memiliki NEM tertinggi… ternyata membuatku tak bisa apa-apa.”

           “ Iya, lain kali kamu jangan pernah mencontek lagi, kasihan kedua orangtuamu telah membiayai kamu selama ini untuk sekolah. Eh kamu malah mencontek. Bagaimana perasaan ayah dan ibumu ?“ tanyaku sambil menenangkan Karen yang sedang bersedih. Saat itu Karen hanya terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Walaupun dia tahu perasaan kedua orangtuanya bila tahu pasti akan sedih, marah, kesal, malu. Karen saat itu benar benar menyesal.  

           Teman-teman di tengah ruangan heran melihat saya memeluk Karen. Mungkin juga mereka bertanya-tanya, karena setelah itu Karen pindah ke SMP kota lain. 

KATA KUNCI
BAGIKAN
BERI KOMENTAR


Ruang Pamer LAINNYA