ETIKA GURU DARI KHAZANAH TURAST

Sabtu, 19 Januari 2019 19:40 WIB

Etika adalah suatu norma baik buruk yang dipakai sebagai pedoman berperilaku di tengah masyarakat bagi seseorang Bagaimana dengan etika pendidik?

ETIKA GURU DARI KHAZANAH TURAST

Saat guru-guru belajar Pendidikan Islam di sekolah, ada banyak mata kuliah yang didapatkan. Tidak hanya teori atau konsep, praktek mengajar pun didapatkan. Juga materi ajar. Namun ada satu hal yang masih belum didapatkan, yakni etika mengajar. Padahal ada kebutuhan mendesak untuk mata kuliah etika mengajar, yakni Kompetensi Kepribadian Guru.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan pribadi yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.

Pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Kompetensi kepribadian inilah yang menjadi dasar bagi Etika Pendidik. Etika adalah suatu norma atau aturan yang dipakai sebagai pedoman dalam berperilaku di tengah masyarakat bagi seseorang terkait dengan sifat baik dan buruk. Etika pendidik berarti aturan yang harus dipakai oleh pendidik agar ia dinilai baik sebagai pendidik.

Para ulama telah menuliskan ihwal etika pendidik ini. Al-Ghazali, misalnya dalam kitab Ihya Ulumuddin mengungkapkan “Pendidik/guru itu mengurus tentang hati dan jiwa manusia. Sedangkan makhluk (Allah) yang paling utama di atas bumi adalah manusia. Bagian manusia yang paling utama adalah hatinya. Sedangkan seorang pendidik/guru sibuk memperbaiki, membersihkan, menyempurnakan dan mengarahkan hati agar selalu dekat kepada Allah SWT”.

Al-Zarnuji menyatakan dalam kitabnya Ta’lim al-Muta’allim menyatakan “‚Adapun memilih guru hendaknya dapat memilih guru yang benar-benar ‘alim (pandai) lebih wira’i dan lebih tua‛”. Jadi menurut al-Jarnuzi, seorang guru itu harus al-A’lam (lebih berpengatahuan), Al-Awra’ (lebih menjaga diri dari perilaku yang tidak baik), al-asanna (lebih dewasa), penyabar, dan al-Hilm (penuh kelembutan dan menyantuni).

Jadi, jauh sebelum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005  tentang Guru dan Dosen, khazanah keilmuan Islam telah menyusun kompetensi seorang guru yang baik. Atas dasar itulah, kia harus terus merujuk pada Turats (tradisi teks): kitab-kitab klasik yang berisi ihwal guru, siswa, pendidikan, dan sejenisnya.

Rubric ini mengundang tulisan atau video pendek kajian turats untuk pendidikan madrasah hebat bermartabat.

KATA KUNCI
BAGIKAN
BERI KOMENTAR


Turats LAINNYA