MARI MENULIS KARYA SASTRA

Sabtu, 19 Januari 2019 19:58 WIB

Harga gajah ditentukan dari gadingnya, setelah mati itulah yang tersisa. Harga seorang manusia ditentukan oleh tulisannya. Maka menulislah

MARI MENULIS KARYA SASTRA

Hai siswa Madrasah yang hebat dan Bermartabat, mari menulis sastra.

Saya percaya kalian pasti pernah menulis karya sastra, entah puisi atau cerita pendek. Kirimkanlah karena semua yang kamu tuliskan akan sangat berharga jika dibagi. Jangan takut karyamu dianggap jelek, karena sebuah karya yang bagus adalah karya yang dibagikan. Jelek itu utusan kedua. Lagi pula tak ada karya yang

Memangnya untuk apa puisi dituliskan?

“Sebuah bahasa agar lengkap dan sempurna memerlukan sastra atau puisi. Tanpa sastra bahasa hanya akan menjadi mesin komunikasi atau mesin penyampai pesan yang jadi begitu teknis dan gersang dari masalah yang berkaitan dengan kejiwaan dan ruh kemanusiaan,” ungkap Sutardji Calzoum Bachri dalam salah satu wawancaranya  (“Chairil Sudah Menjadi Mitos”, Republika, 23 April 2012), “… Karena itu, siswa madrasah harus menulis karya sasatra agar ikut berperan memperkaya bahasa”.

Menulis puisi membuatmu memperlakukan kata sebagai harta karun. Puisi adalah seni menulis dengan kata-kata yang simpel, tapi dalem. Puisi seharusnya tak boros kata-kata. “Saya lihat itu karena penulisnya tak lagi mencari “tepat ucap”, tapi hanya mencari efek dari kata-kata. Mungkin mereka ingin mencari kata-kata dengan cara menabur kata-kata, layaknya memancing ikan di laut dengan memasang banyak joran. Ini beda dengan Chairil  yang mencari kata-kata sampai berhari-hari  sampai ketemu situasi “tepat ucap” itu. Apalagi untuk mencari kata “tepat ucap” yang panjang itu sangat susah. Maka, lebih mudah mereka memilih kata-kata yang boros dan dilandasi alasan ingin mencari efek “buai”. Kata pun banyak diulang karena kesusahan mencapai kata yang “tepat ucap” itu. Irit kata-kata bagi mereka menjadi tidak penting sebab yang penting adalah suasana." (Sutardji “Chairil Sudah Menjadi Mitos”, Republika, 23 April 2012).”

Sekali lagi menulislah. Walaupun kamu merasa bisa menulis puisi, namun tak setiap penulis puisi adalah penyair.

“Sekarang puisi banyak sekali dan semua orang adalah penyair..Seperti halnya sewaktu di kamar mandi di mana semua orang adalah penyanyi, di facebook kini semua orang adalah penyair… Cuma masalahnya kemudian bagaimana kita memilah-milah mana penyair yang mau kita dengar. Ya, seperti kita mau masuk ke kamar mandi umum itu maka akan menjadi soal mana penyanyi yang akan kita dengar, karena saat itu orang semua menjadi penyanyi? Ya memang tidak masalah kalau kita lewat kamar mandinya Titik Puspa, Krisdayanti atau Julio Iglesias, pasti kita mau dengar nyanyiannya. Tapi kalau bukan mereka, apa mau kita dengar juga?”

(Sutardji “Chairil Sudah Menjadi Mitos”, Republika, 23 April 2012).”

 

TVM mengundang kalian menulis karya sastra: entah puisi atau cerpen atau catatan harian sekalipun. Jangan ragu, jangan malu. Kirimkan saja.  Segera! Kami, pada setiap semester akan memilih.

KATA KUNCI
BAGIKAN
BERI KOMENTAR


Ruang Pamer LAINNYA