SURAT IMAJINER DARI MOHAMMAD HATTA

Sabtu, 19 Januari 2019 20:17 WIB

surat ini surat imajiner, hanya dibayangkan ada dan terjadi. Surat ini berisi motivasi dari tokoh bangsa yang dibayangkan menulis untuk guru madrasah

SURAT IMAJINER DARI MOHAMMAD HATTA

Guru  madrasah, mampirlah dalam benakku, dan berpikir barang sebentar!

Ada hal yang masih menjadi ganjalanku saat ini, yakni ihwal buku yang pernah kutulis di Boven Digul. Buku itu kutulis bukan sebagai perintang waktu di pembuangan. Belanda mungkin menganggapku terbuang di Boven Digul, bagiku bukan; saat itu saya berada di pelukan bumi pertiwi (di belahan lain dari Jakarta). Sungguh aku tak merasa terbuang, aku justru merasa mendapatkan alasan untuk melakukan sesuatu, yakni membayangkan kalian: generasi masa depanku.

Maka kutulislah sebuah buku untuk kalian, yakni buku Filsafat Yunani; beberapa bagian kuajarkan kepada kawan-kawan sesama tahanan.

Kalian tahu, kenapa saya  merasa perlu menulis buku filsafat? Kenapa saya tidak menulis buku yang lain seperti buku agitasi politik? Kalian harus membaca buku itu, pada Pengantar Kalam --bagian awal-- buku itu kutulis hal berikut:

“… filosofi berguna untuk penerang pikiran dan penetapan hati. Ia membawa kita ke dalam alam pikiran, alam nurani semata-mata. Dan oleh karena itu melepaskan kita daripada pengaruh tempat dan waktu.”

Dalam pergaulan hidup yang begitu menindas akan rohani, sebagai di tanah pembuangan Digul, keamanan perasaan itu perlu ada. Siapa yang hidup dalam dunia pikiran, dapat melepaskan dirinya daripada gangguan hidup sehari-hari.” (M Hatta, Alam Pikiran Yunani, Tintamas, Jakarta, 1983)

Kau bacalah sekali lagi pernyataan ini, “Siapa yang hidup dalam dunia pikiran, dapat melepaskan dirinya daripada gangguan hidup sehari-hari”

Saya memang mendapatkan gangguan pada saat sementara tinggal di Digul, tapi itu soal penyesuaian saja. Toh di  Digul saya masih bisa membaca buku, bermain bola, dan tertawa bersama teman-teman. Gangguan hidup sehari-hari yang terasa pada waktu itu adalah penjajahan yang belum juga berhenti, bukan hanya penjajahan fisik, namun mentalitas penjajah yang sudah merasuk sukma. Semuanya menyesakkan dada, maka ada baiknya masuk ke dalam dunia pikiran, menerangi dan menetapkan pikiran, agar dapat bernafas panjang sebelum bertindak.

Saya memang bukan Sukarno atau Syahrir, apalagi Tan Malaka. Saya Hatta dari kata Attar, diambil dari nama seorang penyair Sufi Faridduin Attar.

Saya mungkin agak melankolis, atau lebih tepatnya lentur dan melaju bersama seperti burung-burung dalam kisah Mantiq ath-Thayr, Musyawarah Burung-burung.  Pada perjalanan terbang-bersama menuju cita-cita itu, tak cuma keberanian yang penting, hati pun penting untuk terus dihadirkan.

Bagiku, seperti kutulis di Bandaneira tahun 1941, “Tanda revolusioner, bukan bermata gelap, melainkan beriman, berani menanggung siksa dengan sabar hati, sambil tidak melupakan asas dan tujuan sekejap mata juga. (Emil Salim et al, Karya Lengkap Bung Hatta, Buku 1: Kebangsaan dan Kerakyatan, LP3ES, Jakarta, 1998, halaman 270)

Guru  madrasah, mari kita cermati apa yang kutulis di Bandaneira itu.

Aku mau kalian  mengerti dua gerakan dalam satu kepakan itu. Pertama, beriman, berani menanggung siksa dengan sabar hati; kedua, serentak tidak melupakan asas dan tujuan sekejap mata juga.  Dua satu ini hanya bisa kalian miliki, guru madrasah. Guru sekolah umum tak bisa memiliki dua sayap ini.

Hanya kalian, guru madrasah,  yang bisa beriman dengan baik, bukan guru sekolah umum. Karena kalian beriman, maka kalian berani menanggung siksa dengan sabar hati. Itu sudah terbukti kan. Bukankah selama ini kalian menanggung beban cibiran karena memilih mengajar di madrasah. Kalian tetap saja mendidik di madrasah dengan riang hati. Kalian tetap menyiapkan pembelajaran dengan berbalut spirit  agama, satu kerjaan yang tak mungkin dilakukan guru lain.

Kalian sungguh revolusioner. Kalian adalah generasi masa depan yang tidak melupakan asas dan tujuan sekejap mata juga. Aku percaya itu.

Maka berbahagialah!

KATA KUNCI
BAGIKAN
BERI KOMENTAR


Madrasah Hebat LAINNYA