UNTUK APA SOAL HOTS?

Sabtu, 19 Januari 2019 20:47 WIB

Soal-soal HOTS mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir orde tingginya, tidak sekadar menghafal pelajaran dan pengetahuan.

UNTUK APA SOAL HOTS?

Penerapan soal HOTS pada tahun 2018 menuai kontroversi yang luar biasa. Terutama setelah nilai UN 2018 banyak yang jeblok. Beberapa siswa juga orang tua siswa mengeluhkan penurunan ini, tentu saja di dalamnya ada juga pertanyaan besar mengenai HOTS. Untuk apa sih soal HOTS diterapkan?

Merujuk artikel di www.tiirto.id penyebabnya adalah Indonesia mencatat prestasi buruk dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA). Lemah di PISA menandakan remaja suatu negara loyo di bidang sains, matematika, maupun literasi. Datanya begini: Indonesia selalu masuk urutan 10 besar terbawah. PISA 2012 tak kalah memprihatinkan: sains, matematika, dan literasi Indonesia ada di urutan 64, 65, 61— dari total 65 negara dari total 70 negara yang disurvei.

itu baru survey PISA. Ada lagi survey yang lain, yakni survei Kecenderungan Pembelajaran Matematika dan Sains Internasional (TIMSS). TIMMS ini menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan suatu negara dalam memajukan sains maupun matematika di kalangan peserta didik, khususnya kelas 8 dan 4. Dalam TIMSS 2015 (PDF), perolehan poin Indonesia untuk bidang sains  ternyata sebesar 387 dan menempati urutan ke 45 dari 48 negara. Sedangkan untuk skor matematika Indonesia meraih poin 397 dan berada di posisi 45 dari 50 negara.

Indonesia kalah jauh dibandingkan Singapura, misalnya, sebagai tetangga dekat, yang prestasi TIMSS per tahunnya rajin menempati posisi pertama.  Makanya HOTS mutlak harus dilakukan. Simpelnya untuk mengangkat martabat bangsa.

Lalu manfaatnya buat siswa apa?

Soal-soal HOTS mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir orde tingginya, tidak sekadar menghafal pelajaran dan pengetahuan, tapi mampu menganalisis, mensintesa, dan mencipta.  Soal HOTS akan mengasah logika, pola pikir kritis, dan kreativitas siswa

Selama ini, dengan pengajaran berbasis LOTS,  siswa disibukkan untuk menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dan lalu disimpan saja dalam memori. Otak siswa dibuat seperti ember yang menerima banyak air. Setelah kumpul ngapain? Ya sekedar begitu saja. Paling-paling untuk mengerjakan Teka-teki Silang.

Padahal ibarat air yang sudah dikumpulkan, semestinya digunakan untuk mandi atau menyiram tanaman. Pokoknya, harus diaplikasikan demi kesejahteraan bersama. Nah, ibarat air yang sudah kumpul d dalam ember itu, kalau tidak digunakan lama-lama akan menguap. Ini persis seperti cara belajar LOTS: sekarang ingat, besok lupa. Lagi pula, zaman sekarang apa saja bisa dicari di Google.

Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana mengolah pengetahuan. Apalagi menurut World Economic Forum, 65 persen anak yang sekarang duduk di bangku sekolah dasar, nantinya akan bekerja di tipe profesi baru yang belum ada pada masa kini. Pekerjaan tipe barunya kira-kira, pekerjaan yang lebih kreatif gitu deh.

Itulah sebabnya soal-soal ujian  di-upgrade dari LOTS menjadi HOTS. Agar siswa jadi lebih kreatif,  mengaitkan pelajaran dengan dunia nyata. Otak siswa jadi terlatih dalam menganalisis informasi, berlogika, dan menyelesaikan masalah. Soal-soal HOTS akan mengajak siswa connecting the dots, mengaitkan satu materi ke materi lain untuk membangun sebuah cerita besar yang seru.

Kalau begitu, jangan hanya soalnya dong. Pembelajarannya juga harus HOTS.

Tepat sekali, seharusnya HOTS sudah diterapkan sejak pembelajaran.

 

INFOGRAFIS
HOTS dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan pemecahan masalah. HOTS membuat siswa mampu:

  • Memutuskan apa yang harus dipercayai
  • Menetapkan apa yang harus dilakukan
  • Mencipta ide baru
  • Membuat prediksi
  • Memecahkan masalah non-rutin
     
KATA KUNCI
BAGIKAN
BERI KOMENTAR


Ruang Ajar LAINNYA